By: Alya Nur Fadhilah

Suatu
ketika saya mendengar percakapan dua perempuan yang duduk di bangku stasiun. “
Bagaimana bisa kita berjodoh, golongan darah dia AB sementara aku A. Kita tidak
akan bisa bersatu.”
Saya
sempat heran. Dalam hati, "Hah? Alay banget sih." Pertama kali perbedaan golongan darah menjadi permasalahan.
Sebenarnya sudah sering mendengar bahwa karakter seseorang bisa ditelusuri
melalui golongan darah. Hal ini sangat dipercaya oleh orang Jepang, yang lebih mengaitkan
karakter dengan golongan darah daripada shio
dan zodiac.
Pada
tahun 1927, seorang ilmuwan Jepang, Takeji Furukawa, melakukan riset
besar-besaran yang melibatkan sekitar 10.000 responden. Riset tersebut tertulis
dalam papernya berjudul “The Study of
Temperament through Blood Type”. Paper itu menjelaskan bahwa keempat
golongan darah – A, B, O, dan AB – masing-masing memiliki protein tertentu yang
membangun semua sel di dalam tubuh dan turut berkontribusi dalam psikologi
manusia.
Setelah
mendapat respon positif dari kalangan masyarakat Jepang, pemerintah rela
memberikan dana besar untuk risetnya. Hal itu bertujuan untuk membuat suatu
pasukan tentara yang hebat. Namun ternyata pasukan tersebut tetap gugur dalam
peperangan. Bahkan beberapa perusahaan di Jepang mencari karyawan dengan melihat
golongan darah. Misalnya kriteria pemimpin adalah bergolongan darah O dan A,
sekretaris bergolongan darah A, seniman bergolongan darah B, dan sebagainya.
Apabila
sedikit mengintip dari buku “Membaca
Karakter Melalui Golongan Darah” karya Toshitaka Nomi, telah diuraikan
jelas kepribadian masing-masing golongan darah. Misalnya golongan darah A yang
berkepribadian terorganisir, teliti, konsisten, teratur, perfeksionis,
berkebalikan dengan golongan darah B yang cenderung santai, easy going, tidak mau diatur, paling
menikmati hidup. Berbeda pula dengan golongan darah O yang berjiwa besar
sehingga dianggap lebih layak menjadi pemimpin, mudah bergaul, tapi tidak mau
mengalah. Pun halnya dengan golongan darah AB yang dianggap unik, banyak akal,
berkepribadian ganda karena penggabungan dari A dan B.
Bagi
sebagian dari kita yang memahami buku tersebut, mungkin banyak berpikir bahwa
itu benar lalu menyetujui begitu saja. Atau bisa jadi mulai mengamati tingkah
polah orang lain di sekelilingnya. Dan sering pula pemilik golongan darah
merenung tentang kekurangan yang tergambar dalam tipe darah yang ia miliki.
Misalnya, seorang golongan darah A cenderung lebih sering membuat orang menjauh
karena sifat perfeksionisnya. Orang tipe darah B cenderung lebih sering
dimarahi sang bos karena tidak pernah on
time. Pasti ada sebagian orang berpikir, “ Saya tidak mau seperti itu. Tapi bagaimana jika itu sudah menjadi
karakter dari sana, tipe golongan darah saya tidak bisa ganti.” Begitu pula
percakapan yang pernah saya dengar di atas, bagaimana bisa orang ragu memulai
hubungan hanya karena masalah golongan darah. Mungkin lebih spesifik tentang
perbedaan kepribadian mereka.
Sebenarnya
apakah sama antara kepribadian dan karakter? Dalam bukunya tersebut, Toshitaka
Nomi mendefinisikan karakter adalah sesuatu yang biasanya tampak di luar sadar,
dapat juga dikatakan karakteristik yang membedakan kecenderungan tindakan dan
juga ekspresi yang keluar secara mudahnya. Dia menyimpulkan bahwa karakter yang
dimiliki manusia itu dapat berubah, tentunya dengan usaha dan membiasakannya.
Lalu bagaimana dengan kepribadian? Menurut Kartini
Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006), kepribadian adalah sifat dan
tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi
karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat,
pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu
mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Sehingga
dapat dikatakan bahwa kepribadian seseorang mempengaruhi karakternya, sedangkan
karakter itu sendiri sesuatu yang tampak. Dalam prinsip golongan darah tidak
terlalu jelas yang dipengaruhi adalah kepribadian ataukah karakter. Namun dalam
prinsip biologi, protein-protein dari tiap golongan darah akan bekerja secara
hormonal. Sebagaimana suatu sistem tubuh, untuk menampilkan suasana depresi
misalnya dibutuhkan beberapa protein spesifik yang mempengaruhi kerja hormon-hormon
dalam tubuh. Yang pasti di luar tubuh juga ada faktor lain yang mempengaruhi.
Di
atas telah diuraikan bahwa pasukan yang disiapkan oleh pemerintah Jepang
berdasarkan golongan darah, rupanya tetap gugur dalam peperangan. Kenapa?
Karena ada yang lebih hebat dan ahli dalam peperangan. Pemenang itu lebih
terbiasa, pemenang itu tidak mengandalkan apa yang dia punya secara kodrat,
melainkan apa yang dia usahakan.
Secara sederhana bahwa apa yang kita lakukan,
karakter yang muncul, kepribadian yang kita miliki, bukan sepenuhnya bergantung
pada protein-protein yang menyusun golongan darah. Tidak peduli bahwa golongan
darah B yang cenderung pemalas, tidak suka aturan, atau sulit on time, dia bisa menjadi pemimpin bagi
golongan darah O. Tidak lantas karakter seseorang hanya berhenti pada
klasifikasi karakter berdasakan golongan darah. Karena kenyatannya, kepribadian
bisa dibentuk ketika kita mengubah pemahaman dan cara pandang terhadap hidup.
Dan karakter bisa diubah melalui pembiasaan.
Sebagai
contoh tipe B tersebut, ia bisa mengubah kepribadiannya dengan pola pikir bahwa
ada banyak hal di dunia ini yang perlu dipikirkan dan dikerjakan dengan serius.
Sehingga ia akan cenderung berpikir, kapan ia bisa bersikap santai dan kapan
harus serius. Segala hal pemikiran dan pemahaman tersebut akan tergambar dalam
karakternya. Sama halnya dengan golongan darah A, yang terkadang berpikiran
negatif tentang orang lain. Dengan pemahaman hidup yang ia miliki, tipe A bisa
berpikir sederhana ketika seseorang tiba-tiba marah padanya, barangkali dia
sedang memiliki banyak masalah. Begitu pula tipe golongan darah lain.
Kerja
hormonal dan protein dalam tubuh bisa diatur oleh faktor dari luar tubuh.
Termasuk cara pandang hidup, motivasi, visi. Sehingga segala protein dalam tubuh
itu hanya berperan dasar, presentase terbesar ada pada diri sendiri dan
lingkungan. Jadi tidak lantas golongan darah A tidak akan bersatu dengan
golongan darah AB, tergantung bagaimana nanti akan menyelesaikan masalah.
Begitu pun pekerjaan yang mengutamakan beberapa golongan darah tertentu. Menurut
saya sedikit tidak fair. Kenapa?
Secara
sederhana begini. Semua orang berlomba dan bersaing memperoleh satu posisi.
Rupanya yang dicari adalah orang yang sudah kodrat memiliki itu sejak lahir.
Lalu dimana penilaian sebuah kerja keras dan tekad?
Apa
yang menjadi dasar bagi tubuh, tidak lantas mengisolasi diri beginilah adanya.
Seringkali kita mendengar, you are what
you think. Jika buih air bisa menjadi indah karena ucapan-ucapan yang baik,
begitu pun dengan cairan dan unsur-unsur tubuh akan sesuai dengan pemikiran
kita. Anggap segala protein dan hormon dalam tubuh itu sangat kecil, unsur
berukuran mikro. Bukan mereka yang mengatur kita, tapi diri kita sendiri yang
mempengaruhi kerja sistem dalam tubuh. Jadi, golongan darah bukan kontrol dalam
bertindak. Tapi pemahaman dan cara pandang jauh lebih menentukan.
NB
Artikel analisis pertamaku nih. Jika ada kekurangan, boleh dikomentari lho
saya kemarin sudah membaca artikel2 mu,mbak. sangat menginspirasi. saya doakan mbak sukses, selalu disana...
BalasHapusHai, apa kabar Norma, aku masih inget kamu, hehehe
HapusAaamiin, makasih yaa, sukses juga sekolahmu ya
Hayo, inget apa mbak Alya?? oya, aku juga masih inget kamu, mbak. Dulu waktu kita masih di smp negeri 6 solo kamu yang dulu mesti bareng sama mbak Yusfika, mbak mahda dkk to, aku ngerti. aku ngerti dari mading...aku seangkatan sama inayah, mbak. Ojo bingung, lhooo... ahihi :)
BalasHapus