Label

Jumat, 06 Januari 2017

MISTIS (Negeri Tapal Batas)

Buku 'Negeri Tapal Batas'
Hampir satu jam perbincangan DPL dan mahasiswa KKN. Pukul setengah 11, Prof. Koen kembali ke hotel. Pondokan kembali ramai oleh celotehan-celotehan kami. Ada yang sedang serius membicarakan program - Mursito, Alfabi, Suci, dan Rizal. Ada pula cewek-cewek yang cekikikan di ujung ruangan menggosipkan banyak hal sekaligus melepas rindu. Beberapa laki-laki di teras rumah sibuk dengan perbincangan mereka sendiri. Sementara yang lain sisanya, masuk ke dalam lingkaran pembahasan mistis.
Ada Alya, Sena, Zufar, Isti, Adib, Rahma, Rara, Agung, bercerita tentang misteri yang tidak diceritakan kepada Prof. Koen tadi. Sena, yang dikenal sebagai bapak pondokan, bercerita panjang lebar saat itu.
Beberapa kali Zufar memotong, “Eh, yang itu nggak perlu diceritakan!”
Nggak apa-apa,” desak Alya. “Ayo Sen, cerita semuanya.”
Sena, yang dijuluki oleh anak-anak Pancang sebagai GGP (Ganteng-Ganteng Pancang), mulai bercerita.
Setelah semua kompleks permasalahan di pondokan lama di atas kantor desa, mereka sebenarnya mendapat beberapa tawaran pondokan. Saat itu, setelah merinci beberapa kelebihan, mereka telah memutuskan sebuah pondokan. Rumah itu mudah aksesnya, cukup nyaman, keluarga yang memiliki pun sangat ramah, ditambah seorang anak gadis di dalamnya – ejekan teman-teman pada Sena yang sedang bercerita. Mereka sudah mantap pada rumah itu. Tiba hari itu, Sena dan Rara melapor pada pak kades tentang pilihan ini. Namun pak kades hanya tertawa. Semua perangkat desa yang mendengar percakapan itu pun juga tertawa. Keduanya bingung.
“Kalian yakin mau menempati rumah itu?” kekeh pak kades.
Sena dan Rara hanya berpandangan, bingung. Keluarga yang baik hati itu sendiri yang menawarkan rumah itu untuk mereka.
“Maaf, memangnya ada apa ya, Pak?” tanya Sena, hati-hati.
“Di Kalimantan, mau tidak mau, kalian harus percaya tentang mistis,” kata pak kades.
Semua warga sudah tahu. Konon, rumah itu dihuni oleh kuyang. Singkat cerita, keluarga itu memelihara ilmu hitam. Kuyang yang dimaksud adalah seorang istri dari pemilik rumah itu sendiri. Tanpa babibu, mereka segera blacklist besar rumah itu meskipun sebelumnya memiliki banyak keunggulan.
Pondokan kedua, adalah rumah di dekat kantor pos. Namun sangat disayangkan lagi, rumah ini hanya berjarak satu rumah dari rumah berkuyang tadi. Akhirnya mereka memilih rumah yang saat ini mereka tempati. Rumah ini milik seorang tokoh agama di Pancang. Sang pemilik pergi ke Palu selama 2 bulan, dan mengamanahkan mereka untuk menjaga rumah. Kondisi daerah itu adalah banyak pencurian. Bahkan rumah di sebelah pondokan adalah milik seorang yang sudah bolak-balik masuk penjara karena maling.
Rumah ini sangat membutuhkan penjagaan yang ketat. Namun anehnya, desain rumah ini seperti tidak cocok untuk wilayah pencurian. Rumah panggung berlantai dua, namun pintu lantai atas tidak bisa dikunci. Bahkan semua jendela bisa diakses bila memanjat lewat atap. Atap rumah pun ada yang berlubang. Cerita Sena seringkali disambut gelak tawa.
“Kami memanfaatkan apapun untuk menutup akses yang bisa dimasukin. Semua jendela kami paku, kami pakai tambang, menutup lubang di atap. Dan untuk meningkatkan keamanan, semua perempuan harus tidur di kamar, dan ada perwakilan laki-laki yang tidur di lantai atas. Bahkan sampai kemarin Anshor tidur tengkurap dengan kedua kaki menempel di jendela,” jelas Sena, kami semua langsung tertawa.
Anshor memasang muka polos.
“Di lantai satu, kami juga dibagi posisi tidur. Ada yang tidur di dekat pintu, sambil membawa semua alat yang bisa untuk pertahanan, semacam linggis, sapu, pisau. Bahkan Rashidi bawa gas,” kekeh Sena. “Meskipun sebelum tidur kami persiapan seperti itu, pada akhirnya kami terlelap juga.”
“Iya, bahkan aku menjatuhkan piring dari tangga atas waktu sahur, mereka semua tidak ada yang bangun. Hahaha,” sambung Isti.
Pondokan semakin ramai oleh gelak tawa dan perbincangan serius beberapa orang.

................................................................................................
Baca kelanjutan kisahnya di buku 'Negeri Tapal Batas', hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar