“Ja!”
“Ja!”
“Bukan, buat seringan mungkin. Ja!”
“Dimana letak lidahnya, Mah?”
“Lidahnya melayang, di tempat yang sama kamu mengucap ‘ya’,” jelasnya.
“Ja,
ja, ja!” seruku, agak kesal. “Udahlah, Mah, aku nggak bisa.”
Lazuardi
langit mulai membiru, setengah jam setelah shubuh. Beberapa burung tampak di
langit biru tua itu. Bumi masih sepi, di tempat ini pun hanya terdengar
lantunan para santri mengeja huruf hijaiyah. Mereka berkumpul di beberapa sudut
pesantren, berdasarkan tingkatan kelas masing-masing.
“Mah, aku turun kelas aja deh, aku nggak bisa di sini,” kataku, ragu-ragu dengan
kalimatku. Sebelumnya memang ada placement test tahsin, dan aku berada di jilid
3 dari jilid 1-5. Tapi kini aku sudah tertinggal diantara teman-temanku yang
bahkan sudah setoran di beberapa pertemuan kemarin. Sementara aku, satu lembar
saja masih diulang-ulang.
“Alya, kamu pasti bisa!” kata sang pemandu tahsin, yang beberapa menit ini sudah
sabar menungguku mengucap satu huruf saja.
“Aku
orang Jawa, Mah, ya wajar kalo susah ngomong beberapa huruf hijaiyah,” balasku.
“Ammah juga orang Jawa,” jawab ammah Rima. “Kamu mending cuma nggak bisa
mengucap ‘ja’ dan ‘dho’. Dulu, Ammah malah nggak bisa semua.”
“Terus, ammah kenapa sekarang bisa?”
“Ya karena ammah belajar. Semua itu butuh proses. Belajar tahsin, butuh kesabaran
yang ekstra. Dulu ammah juga sempat frustasi, sering nangis gara-gara susah
mengucapkan huruf dengan benar. Tapi yang penting dilatih aja terus,” jelas
akhwat berkulit sawo matang itu.
Aku
mendesah. “Kemarin aku juga sempet nangis, gara-gara salah terus. Tapi
sekarang aku masih nggak bisa.”
Beberapa
hari ini moodku buruk ketika kelas tahsin yang bahkan tiga kali dalam seminggu.
Sudah berkali-kali aku belum juga setor satu halaman pun.
“Alya, kamu inget nggak di kelas kemarin, ustadz Syafii bilang apa, tentang
orang yang punya kemampuan menghafal sulit?” tanya ammah Rima.
“Dapet pahala yang lebih banyak, karena dia lebih sering mengulang-ulang
hafalnnya, dibandingkan sama orang yang kemampuan menghafalnya lebih cepat,”
jelasku.
“Nah, sama halnya dengan kamu sekarang,” lanjutnya. “Tau nggak, dulu ada ustadz
yang cerita saat masa-masa beliau belajar tahsin, sampai muntah darah karena
susah mengucapkan ‘kho’.”
Mataku
membulat. “Oh iya?”
“Iya, tapi buktinya sekarang beliau malah jadi ustadz di bidang tahsin. Semua
itu nggak bisa instan. Jika sekarang kamu kesusahan, dan suatu hari nanti kamu
bisa mengucap dengan benar, rasanya tuh seneng banget. Ada kepuasan sendiri.”
Aku
merenung sejenak. Sejak kemarin tidak pernah berhenti berdoa, ya Allah ridhoi aku
mengucap hurufMu dengan benar.
“Apalagi ini bidangmu, kan? Urusan dimana letak lidah, asal suara, kan kamu
banget di KG.”
Aku
semakin merenung.
“Semangat, Alya. Allah punya balasan sendiri untuk orang yang benar-benar
berjuang.”
Aku
hanya tersenyum kecil, sambil terus berdoa dalam hati. Sesekali melirik ke arah
jam dinding, menunjuk pukul 05.45, dan aku belum persiapan kuliah jam 7.
Sering
sekali aku mendapat surprise yang diletakkan di atas meja. entah buku kecil
hadits arbain, selember kertas motivasi untukku, dan sekarang snack kecil yang
di bungkusnya tertempel sebuah kertas tak bernama.
Semangat ya, Alya… ^_^
Semangat kuliahnya…
Semoga dilancarkan dalam menyelesaikan
tugas-tugasnya…
Dan semangat dalam tahsinnya ya…
Menuntut ilmu, terutama ilmu Al-Quran
pasti banyak godaannya..
Harus menyediakan banyak cadangan
kesabaran…
Supaya ilmu dan ikhtiarnya mendapatkan
keberkahan..
Semoga dikuatkan… ^_^
Aku
mengulum senyum. Sepulang kuliah mendapatkan pesan itu, cukup membuat aku
semangat lagi. Ya Allah, ridhoi aku melafalkan ayatMu dengan benar.
Belajar ilmu tahsin dimana? Gurunya ada sanad keilmuannya??
BalasHapusDi asrama. Belum, tapi sudah tersertifikasi tahsin
HapusBelajar ilmu tahsin dimana? Gurunya ada sanad keilmuannya??
BalasHapus