Label

Jumat, 06 Januari 2017

JA!



“Ja!”
“Ja!”
“Bukan, buat seringan mungkin. Ja!”
“Dimana letak lidahnya, Mah?”
“Lidahnya melayang, di tempat yang sama kamu mengucap ‘ya’,” jelasnya.
“Ja, ja, ja!” seruku, agak kesal. “Udahlah, Mah, aku nggak bisa.”
Lazuardi langit mulai membiru, setengah jam setelah shubuh. Beberapa burung tampak di langit biru tua itu. Bumi masih sepi, di tempat ini pun hanya terdengar lantunan para santri mengeja huruf hijaiyah. Mereka berkumpul di beberapa sudut pesantren, berdasarkan tingkatan kelas masing-masing.
“Mah, aku turun kelas aja deh, aku nggak bisa di sini,” kataku, ragu-ragu dengan kalimatku. Sebelumnya memang ada placement test tahsin, dan aku berada di jilid 3 dari jilid 1-5. Tapi kini aku sudah tertinggal diantara teman-temanku yang bahkan sudah setoran di beberapa pertemuan kemarin. Sementara aku, satu lembar saja masih diulang-ulang.
“Alya, kamu pasti bisa!” kata sang pemandu tahsin, yang beberapa menit ini sudah sabar menungguku mengucap satu huruf saja.
“Aku orang Jawa, Mah, ya wajar kalo susah ngomong beberapa huruf hijaiyah,” balasku.
“Ammah juga orang Jawa,” jawab ammah Rima. “Kamu mending cuma nggak bisa mengucap ‘ja’ dan ‘dho’. Dulu, Ammah malah nggak bisa semua.”
“Terus, ammah kenapa sekarang bisa?”
“Ya karena ammah belajar. Semua itu butuh proses. Belajar tahsin, butuh kesabaran yang ekstra. Dulu ammah juga sempat frustasi, sering nangis gara-gara susah mengucapkan huruf dengan benar. Tapi yang penting dilatih aja terus,” jelas akhwat berkulit sawo matang itu.
Aku mendesah. “Kemarin aku juga sempet nangis, gara-gara salah terus. Tapi sekarang aku masih nggak bisa.”
Beberapa hari ini moodku buruk ketika kelas tahsin yang bahkan tiga kali dalam seminggu. Sudah berkali-kali aku belum juga setor satu halaman pun.
“Alya, kamu inget nggak di kelas kemarin, ustadz Syafii bilang apa, tentang orang yang punya kemampuan menghafal sulit?” tanya ammah Rima.
“Dapet pahala yang lebih banyak, karena dia lebih sering mengulang-ulang hafalnnya, dibandingkan sama orang yang kemampuan menghafalnya lebih cepat,” jelasku.
“Nah, sama halnya dengan kamu sekarang,” lanjutnya. “Tau nggak, dulu ada ustadz yang cerita saat masa-masa beliau belajar tahsin, sampai muntah darah karena susah mengucapkan ‘kho’.”
Mataku membulat. “Oh iya?”
“Iya, tapi buktinya sekarang beliau malah jadi ustadz di bidang tahsin. Semua itu nggak bisa instan. Jika sekarang kamu kesusahan, dan suatu hari nanti kamu bisa mengucap dengan benar, rasanya tuh seneng banget. Ada kepuasan sendiri.”
Aku merenung sejenak. Sejak kemarin tidak pernah berhenti berdoa, ya Allah ridhoi aku mengucap hurufMu dengan benar.
“Apalagi ini bidangmu, kan? Urusan dimana letak lidah, asal suara, kan kamu banget di KG.”
Aku semakin merenung.
“Semangat, Alya. Allah punya balasan sendiri untuk orang yang benar-benar berjuang.”
Aku hanya tersenyum kecil, sambil terus berdoa dalam hati. Sesekali melirik ke arah jam dinding, menunjuk pukul 05.45, dan aku belum persiapan kuliah jam 7.

Sering sekali aku mendapat surprise yang diletakkan di atas meja. entah buku kecil hadits arbain, selember kertas motivasi untukku, dan sekarang snack kecil yang di bungkusnya tertempel sebuah kertas tak bernama.

Semangat ya, Alya… ^_^
Semangat kuliahnya…
Semoga dilancarkan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya…
Dan semangat dalam tahsinnya ya…
Menuntut ilmu, terutama ilmu Al-Quran pasti banyak godaannya..
Harus menyediakan banyak cadangan kesabaran…
Supaya ilmu dan ikhtiarnya mendapatkan keberkahan..
Semoga dikuatkan… ^_^

Aku mengulum senyum. Sepulang kuliah mendapatkan pesan itu, cukup membuat aku semangat lagi. Ya Allah, ridhoi aku melafalkan ayatMu dengan benar.

3 komentar:

  1. Belajar ilmu tahsin dimana? Gurunya ada sanad keilmuannya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di asrama. Belum, tapi sudah tersertifikasi tahsin

      Hapus
  2. Belajar ilmu tahsin dimana? Gurunya ada sanad keilmuannya??

    BalasHapus