| Kunjungan lebaran ke rumah pak kades |
Patok perbatasan ini berupa tiang dengan kibaran bendera merah
putih di atasnya. Wilayah patok biasanya dijaga oleh Pamtas. Di belakang rumah
merah putih adalah sungai yang sedang surut. Biasanya sungai ini dijadkan jalur
transportasi menuju ke Tawau, Malaysia. Ketika pasang, sungai ini begitu ramai
oleh perahu-perahu yang menuju ke Tawau.
“Indonesia, Malaysia, Indonesia, Malaysia!” seru Anshor, meloncatkan
kaki berkali-kali pada patok tiang bendera itu. Kami hanya tertawa melihatnya.
“Wah, kita sedang LDR! Kau
di Indonesia, dan aku di Malaysia,” seru salah seorang.
Beberapa orang sibuk mewawancarai TNI yang sedang berjaga di sana.
Beberapa lainnya mengunjungi rumah warga untuk mendengarkan cerita di
perbatasan. Namun sebagian besar sibuk berfoto-foto ria.
Rahma masuk ke sebuah rumah di dekat patok. Di dalam rumah itu ada
dua orang ibu dan 3 anak kecil. Kami sempat mewawancarai mereka terkait kehidupan
perbatasan ini.
Rupanya beberapa bulan, nasib rumah mereka sedang melayang berada
di tangan pemerintah Indonesia-Malaysia. Ada keputusan bahwa beberapa rumah
penduduk harus digusur untuk pembuatan jalan umum perbatasan
Indonesia-Malaysia. Namun terkait info tersebut, tidak dibarengi dengan info
penggantian rugi atau tunjangan sebagai pengganti rumah yang digusur.
Kami banyak mendengar kehidupan mereka. Penggunaan mata uang rupiah
dan ringgit, kesenjangan harga produk negeri sendiri dan negeri orang, sampai
pada pelayanan dan infrastruktur penduduk.
Beberapa menit berlalu, jam sudah menunjuk pukul setengah 5. Kami
segera beranjak menuju ke masjid untuk salat asar. Beberapa anak masih
mengantre membeli bakso goreng dan es krim dari pedagang kaki lima. Bapak
penjual itu rupanya dari Ngawi. Kami menyebut jualannya, penthol.
Butuh sekitar 10 menit untuk mobilisasi dengan mobil pick up. Sekitar
pukul 5, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju dermaga di Sungai Nyamuk.
Satu-satunya dermaga dengan jalan aspal yang pernah kami lihat di Sebatik,
rupanya adalah dermaga terpanjang di Kalimantan Utara. Dermaga ini dengan gagah
membelah lautan dari berbagai kedalaman. Jalannya mulus, banyak kendaraan roda
dua berlalu lalang. Tampak beberapa orang memancing di tepian. Tak jarang pula
dimanfaatkan pasangan muda-mudi bercengkerama menikmati semburat cahaya langit
sore.
Laut dengan ombak-ombak kecil menghampar di setiap sapuan pandangan
kanan-kiri kami. Adib mengendarai mobil dengan anggun. Di depan tampak jalan
dermaga yang sedikit berbelok ke kanan. Dermaga ini memang sengaja dibelokkan.
Karena apabila desain bangunan lurus, maka ia akan sampai ke Tawau, Malaysia.
Ya, pulau yang terbentang di seberang dermaga ini adalah milik negara tetangga.
Di ujung dermaga kami berhenti. Mobil terparkir di persimpangan
tiga. Kami langsung berpencar, asyik dengan foto-foto nuansa langit sore. Kami
juga diperbolehkan ekspedisi kapal besar yang merapat dengan dermaga. Dengan
sangat hati-hati, kami melompati beberapa sentimeter laut untuk menuju ke dek
kapal. Pengabadian momen dengan kamera kembali dilakukan.
Kami juga merajai ruangan kemudi. Melihat pemandangan dengan teleskop,
berfoto ria di depan kemudi, dan sesekali bertanya tentang peralatan di sana.
“Wah, aku menemukan jodohku di sana!” seru Agita saat menggunakan
teropong.
“Mana? Jodohmu di Tawau?” sahut yang lain.
Hari semakin sore. Semburat kemerahan melukis hamparan langit,
dihiasi beberapa ekor burung terbang seirama. Lebih indah dari lukisan oleh
pelukis sehebat apapun. Mahakarya Tuhan memadukan laut biru dengan langit
kemerahan dalam satu garis horizontal.
Dari
jauh, tampak kapal besar berwarna cokelat keabuan, mendekat menuju dermaga. KRI
623, dengan beberapa kibaran bendera berbagai macam negara di tiangnya. Semakin
mendekat, tampak para penumpangnya adalah para tentara berbaju cokelat keabuan.
Beberapa peralatan perang memenuhi bagian utama dek kapal.-----------------------------------------------------------------------------------------
Baca kisah selanjutnya di buku 'Negeri Tapal Batas' :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar